Artikel remaja suara merdeka
Bohong Lagi, Bohong Terus….
By: Vie’s
Gimana rasanya kalo orang yang udah kita percaya bohong sama kita? Wah, pasti ngeselin banget. Nggak kebayang gimana bete dan marahnya kita waktu ngebongkar kebohongan itu dengan sukses. Pengen banget deh kita teriak: Kenapa harus bohong, sih? Kenapa nggak terus terang sih? Jahat buanget sih kamu!!!
Yup! Kisah ini yang lagi nimpa Gita. Dia udah sepenuhnya percaya kalau Dara, temen duduknya itu berasal dari keluarga yang nggak mampu. Dara sering ngeluh kalau dia sering nggak dikasih uang saku sama ortu. Dia juga sering bilang kalau dia harus kerja keras buat nerusin sekolah. Entah itu kerja sambilan sampai bantu-bantu. Gita ngerasa iba. Dia jadi sering ngebantu. Kadang ngasih uang ala kadarnya buat bantu Dara bayar SPP atau untuk beli buku.
“Nggak nyangka aja kalau selama ini dia bohongin aku. Ternyata dia berasal dari keluarga yang berada. Ayahnya pegawai kantoran. Rumahnya gede. Ibunya buka butik dan salon. Tapi kenapa dia harus ngaku nggak mampu segala? Pantesan dia selalu nolak kalau aku pengin main ke rumahnya.” kata siswi kelas 10 SMA itu kecewa.
Gita ngerasa kecewa bukan karena nggak rela sama apa yang dia kasih ke Dara selama ini. Tapi karena sikap dara yang nggak pernah terus terang.
“Yang aku utamain dalam persahabatan itu kejujuran. Gimana juga, kejujuran merupakan modal awal kepercayaan. Kalau sekali kita nggak jujur, selamanya kita bakal dicap pembohong. Aku udah jujur sama dia. Aku ceritain apa adanya. Tapi kenapa dia bohong?” imbuh Gita.
Apa yang dialami Gita mungkin pernah dialami kita juga. Atau mungkin kita mengalami yang lebih parah dari itu. Misalnya penipuan yang menguras seluruh harta kekayaan kita. Hehehe…
Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya kita juga pernah bohong sama orang kan ? Sekecil apapun pasti pernah. Termasuk bohong sama ortu soal uang saku. Bohong sama guru kalau kita sakit, padahal ketemuan sama pacar di taman.
“Ye… namanya juga manusia. Nggak mungkin bisa hidup lurus tanpa bohong sedikitpun. Tapi kan kadang ada juga bohong yang baik. Kita nggak bisa nuduh temen yang bohong itu jahat, kejam, penghianat! Misalnya, dia bohong buat nutupin kenyataan yang bisa bikin kita sakit hati dan dia nggak pengin kehilangan kita sebagai sohib terbaiknya, apa itu salah?” kata Ruli, siswi MAM Limpung.
Cewek Aries itu menambahi, bohong juga bisa temen kita lakukan buat nutupin kesalahan temen lain supaya kita nggak marah sama dia. Bahasa kerennya, pro social lie yang bertujuan membantu orang lain. Mungkin juga dia bohong karena tahu kita ini termasuk orang yang pemarah dan nggak gampang nerima penjelasan orang lain gitu aja. Temen kita jadi enggan buat jujur sama kita dan milih bohong sebagai alternatif.
Tapi kalau kebohongan itu cuman buat kepentingan pribadi gimana? Apa kita masih bisa nerima? Kayaknya wajar-wajar aja kalau kita terbakar emosi.
Kayak kasus Gita tadi. Kebohongan bisa mereka lakukan buat ngambil keuntungan dari kita. Pura-pura nggak mampu, padahal cuman pengin dikasihani dan dikasih sesuatu sama orang lain.
“Aku pernah punya temen. Dia merengek-rengek mau minjem uang. Katanya sih buat berobat neneknya yang sedang sakit. Eh nggak tahunya, sorenya aku liat dia jalan sama pacarnya di mal. Aku buntutin dia. Ternyata, uang yang dia pinjem tadi buat ngebeliin baju dan barang-barang lain buat pacarnya. Keterlaluan nggak sih?” kata Iwan, cowok kuliah sambil nyambi buka konter hape.
Sejak kejadian itu, Iwan jadi malas sahabatan sama temennya itu. Apalagi dia tahu bukan cuman dia aja yang pernah kena. Temen-temen kampus dan temen nongkrongnya juga sering kena tipu. Iwan udah kadung ngecap dia backstabber. Orang kayak gitu layak buat ditinggalin.
Sebenarnya, selain buat kepentingan pribadi, kebohongan bisa aja dilakukan dengan niat jahat. Yang ini namanya kebohongan antisocial! Misalnya, dia bohongin kita dengan tujuan ngadu domba kita dengan temen lain, biar kita berselisih paham lalu persahabatan kita jadi hancur. Yang ini kayaknya lebih ngeri. Tapi lebih ngeri lagi kalau kita jadi pembohong beneran.
Well, mungkin dari sini kita bisa ngambil simpulan sederhana. Kalau kita nggak mau dikejar rasa bersalah, mengakulah! Justru kebohongan yang kita captain bisa nimbulin kebihingan baru yang bikin kita terus terusan berbohong dan berbohong lagi. Nggak salah kan kalau kita ngejunjung tinggi kejujuran? Meski kadang kejujuran terasa pahit dan menyakitkan!
Biar Nggak dibohongin..
Sebenarnya kita nggak perlu alat canggil macam lie detector buat ngerti dia boong apa nggak. Kita cukup ngamatin reaksi dia aja. Dia bohong kalau ngelakuin hal dibawah ini:
1. Gagap ngomong
Kalau temen kamu yang suka ngomong itu tiba-tiba kehilangan kata-kata, kali aja dia lagi ngarang cerita bohong. Biasanya dia bakal ngomong yang kita nggak ngerti. Nggak jelas dan nggak rasional. Lebih-lebih kalau dia sering-sering meralat ceritanya.
2. Gestur aneh
Tukang bohong nggak suka deket-deket sama target. Dia berusaha ngalihin kegugupannya dengan menjauhi lawan bicara atau nyalurin ketangan dengan meremas-remas tangan, memainkan benda-benda di dekatnya atau menggerak-gerakkan tubuhnya.
3. Gerakan mata
Orang bohong pasti nggak berani natap lawan bicara. So, amati aja bola mata temen kamu. Kalau bola matanya terus bergerak ke kiri kanan nggak jelas gitu, terus ngindar kalau kamu natap dia, udah pasti kalau dia bohong.
4. Ngotot.
Tukang bohong selalu ngeyakinin kamu kalau dia jujur. Semakin ngotot dia bilang jujur, apalagi sampai teriak-teriak, itu semakin nguatin kalau dia nggak jujur!
5. Sok Tenang
Tukang bohong biasanya sok kalem buat nutup kegugupannya. Tapi coba amati. Kalau nada bicaranya rendah dan kelihatan aneh dalam ngucapin kalimat per kalimat, bisa jadi dia bohong.
6. Cerita Ribet
Dia pikir kita bisa percaya kalau dia cerita panjang lebar? Amati aja. Kalau makin lama ceritanya makin ribet dan ruwet, dor aja pake pertanyaan spontan. Kalau dia kebingungan, jelas kalau dia bohong.
7. Bikin Kita Ngerasa Salah
Dia nyolot bilang kalau kita enggak percaya sama dia. Cara ini dia gunakan buat bikin kita seolah-olah jadi pihak yang salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar