24 Februari 2009

Mumpung Masih Muda

Di dunia ini, nggak ada orang yang nggak pengin seneng. Mereka selalu berusaha bikin hidup mereka jadi warna warni. Nggak peduli apakah itu ngerugiin orang lain apa nggak. Nggak mikir apakah kesenangan itu bahaya atau enggak. Yang penting seneng! Just that! Tapi mereka sering kejebak. Yang namanya kesenangan, belum tentu menghadirkan kebahagiaan sejati.

Contoh saja Willy. Tiap malem dugem, nongkrong di kafe-kafe atau makan di restaurant terkenal sama si pacar. Tapi dia nggak ngerasain kebahagiaan sampai benar-benar klimaks. Habis ngelakuin itu ya udah. Nggak berbekas. Nggak ada kesan yang berarti. Ilang kayak debu diterbangin angin.

“Mungkin karena aku selalu ngerasa sedih kali ya? Makanya aku selalu nyari kebahagiaan buat ngisi kekosongan hati. Lagian di rumah sering suntuk. Kadang ngeliat kerjaan numpuk. Bokap dan nyokap ngomel nggak mau berhenti. Ya mendingan aku keluar. Nyari kesenangan. Mumpung masih muda dan belum punya beban apa-apa.” kata Willy yang ngejalanin bisnis sablon di rumahnya.

Nggak cuma Willy, banyak temen-temen yang lebih suka keluyuran nyari kesenangan yang sifatnya sementara. Apalagi sekarang, tempat yang menawarkan berbagai fasilitas yang bikin hidup kita ‘seneng’, sudah kayak jamur di musim hujan. Kita tinggal milih. Mau yang kelas rendah atau kelas tinggi.

“Kita kan hidup cuma sekali. Nggak mungkin dong kita sia-siain gitu aja. Daripada hidup kita boring, mending dimanfaatin buat nyari kesenangan. Toh nggak jaman kali ada cewek or cowok berdiam diri di rumah, merenung, ngitung dosa sambil nungguin masa tua.” tambah Willy.

Eits! Jangan salah! Justru ‘hidup cuman sekali’ itu yang bikin kita musti hati-hati. Dalam semua hal deh. Termasuk ngehargain hidup. Bukan malah diisi dengan tingkah-tingkah konyol yang nggak penting blas. Atau malah nyari kesenangan fana yang belum tentu menghadirkan kebahagiaan nyata bagi kita.

Tapi banyak kok temen yang nggak setuju dengan dunia begituan Mereka justru memprotes generasi muda yang sukanya cuman senang-senang dan nggak pernah mikir gimana beratnya tanggung jawab kita nanti. Mereka nggak setuju kalau hidup itu cuman diisi dengan kesenangan tok.

Ambil contoh Ica . Mahasiswi Undip itu paling nggak suka ngeliat teman-temannya yang suka have fun. Atau melihat anak-anak sekarang yang belum becus kerja, tapi sukanya ngabisin duit.

“Dulu aku emang suka gitu. Sering pulang malam, nongkrong sama temen-temen di diskotik. Sampai kadang aku ketiduran di sana gara-gara kelewat mabok. Tapi aku lantas mikir, apakah kita selamanya akan begini?” kata dara ayu itu.

Dia menambahi, kita juga punya masa depan yang musti diperjuangin. Kita nggak mungkin sembrono seumur hidup. Justru sebenarnya masa muda ini kita manfaatin sebagai bekal kita nanti. Lalu dia mulai ngerubah diri sedikit demi sedikit. Dia mulai ninggalin hal-hal gituan dan konsen sama kuliah. Emang sih konsekuensinya berat. Dia dijauhi teman-teman dan dikucilkan dari pergaulan yang dulu.

“Tapi aku pikir, temen itu nggak cuman mereka tok. Nyatanya setelah ‘putus’ dari mereka, aku tetep bisa berteman dengan teman yang jauh lebih baik dari mereka. Yang bisa ngasih masukan, atau jalan keluar kalau aku punya masalah. Dan pastinya, lebih 'bersih' dari mereka. Aku mulai ngerasain kenikmatan hidup yang ‘sehat’. Dan mungkin, ini yang dinamakan kebahagiaan sejati.” Imbuh Ica.

Fian setuju sama Ica . Kebahagiaan emang bisa kita rasain kalau hati kita tenang dan hidup make jalur yang benar. Toh banyak kecelakaan terjadi gara-gara si pengemudi nggak matuhin lalu lintas kan ? Begitu juga kebahagiaan.

“Kebahagiaan itu bukan dicari. Tapi diciptain. Kalau kita ngerasa bahagia dengan apa yang kita miliki sekarang, buat apa kita nyari ke tempat lain? Misalnya dugem, ada nggak sih yang kita dapetin setelah dugem? Paling hanya rasa bangga yang bikin kita malah jadi tambah arogan. Atau buang masalah? Kalau nita, jalan keluar masalah ya diselesein, bukannya dibawa pergi-pergi gitu. Nggak mungkin kan masalah yang kita bawa bakal nguap di tengah jalan? Atau karena kita ngerasa nggak ada kebahagiaan lain selain dengan dugem, nge-drug, ngecengin cewek-cewek atau ikut trek-trekan sepeda motor? Kayaknya nggak deh!” kata Fian.

Fian bilang, sebenarnya kebahagiaan itu ada di sekitar kita. Cuman kitanya aja yang sering telat mikir dan seolah-olah nggak peduli. Kita malah cenderung nyiptain keruwetan sendiri, digede-gedein, didramatisir, lalu dipikir sampai bikin otak kita terjungkir-jungkir. lalu apa salahnya kita nyiptain hidup yang simpel dan milikin kebahagiaan itu?

“Harusnya kita berfikir realistis. Berapa kerugian kita kalau kita nggak mau belajar ngehargain hidup. Kalau masa muda kita selalu diisi dengan kesenangan yang nggak jelas, gimana nantinya masa tua kita? Jadi orang terhormat, bermartabat, ataupun ‘kaya’ nggak bisa didapetin dengan omongan tok. Kita musti kerja keras mulai dari nol. Mulai dari kita udah bisa ngebedain mana yang baik dan mana yang nggak bener.” Lanjut Fian.

Yup! Mungkin emang kitanya aja yang terlalu buru-buru ngambil statmen kalau kebahagiaan sulit didapet. Kebahagiaan harus kita beli dengan, misalnya uang. Kalau begitu, mulai aja dari diri kita sendiri. Kita captain kebahagiaan sendiri, di manapun kita berada dan berbagi kebahagiaan pada mereka yang nggak pernah atau belum ngerasaain bahagia. Mungkin itu bikin hidup kita jauh lebih bahagia…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar