12 Maret 2009

artikel remaja untuk suara merdeka

Artikel Remaja Suara Merdeka
Latah? Mana Mau?
By: Vie’s

Pernah nggak kita ngeliat orang latah? Itu lho, orang yang suka ngucapin kata di luar kehendak hati karena kaget. Contoh, ehh copot! Eh, kocrot! Ada juga yang sampai ngomong jorok semisal alat vital cowok. Yup! Fenomena kayak gini emang sering kita temui. Terutama pada ibu-ibu rumah tangga atau PRT. Tapi nggak jarang temen sekolah kita ada juga yang menderita latah atau cuma pura-pura latah biar dibilang gaul.
Gaul?? Nggak salah???
“Bener banget! Cewek-cewek di sekolahku juga pada ngikutin tren latah macam gitu. Mereka kayaknya nggak berusaha buat berhenti latah. Malahan jumlah anak yang latah makin lama makin bertambah. Aku nggak ngerti kenapa budaya yang mematikan kreativitas ini mudah berkembang.” kata Anisa, sisiwi salah satu SMA di Semarang..
Cewek langsing ini bilang, kalau dibiarin, sebenarnya latah bisa bahaya juga. Selain mengganggu system syaraf, latah juga bisa ngakibatin gangguan psikologi dan sosial. Kebetulan dia punya saudara yang latah. Kalau kaget, dia selalu ngomong kata-kata jorok atau ngeluarin kata yang bikin orang lain ketawa.
“Kalau kaget, dia sering banget ngomong eh…copot. Karena seringnya ngomong gitu, di komplek perumahan dia di kenal sebagai Mbak Copot.” lanjut Anisa.
Erwin juga punya pengalaman sama. Temen kuliahnya ada yang latah. Cowok malah. Bisa dibilang latahnya ini sudah agak parah. Kalau ada temen yang bilang: tari bali. Eh, dia langsung pasang gaya kayak penari bali beneran sambil lirik sana sini. Kalau ada temen ngomong bintang kecil, dia langsung nyanyi lagi bintang kecil. Parah banget!
“Aku kadang sampai kasian kalau lihat dia dikerjain temen-temen. Yang ngerjain juga kadang kelewatan. Nggak punya peri kelatahan!” kata mahasiswa semester V sebuah Universitas ternama di Semarang.
Cowok yang suka baca itu bilang, dia nggak ngerti banget soal penyakit latah. Latah biasanyanya muncul karena budaya. Bisa juga karena seseorang pernah ngalamin trauma atau tertekan. Ada lagi yang karena kebiasaan. Dari niru-niru temen, akhirnya kebablasan jadi latah betulan.
Yang lebih mengenaskan, imbuhnya, budaya latah cuman ada di Indonesia. Nggak pernah kedenger kan, ada bule ngomong latah? Latah di Indonesia juga nggak cuman soal ngomong tok. Tapi masalah sikap dan perilaku. Ada sebagian yang suka meniru-niru. Terutama ibu-ibu. Kalau tetangganya beli mesin cuci baru, dia langsung panas hati pengin beli juga. Trus di dunia film juga sama. Kalau ada film laris, buru-buru deh bikin film yang sama. Biar film itu ketularan laris juga.
“Mungkin kalau orang mau sadar kalau aliran latahisme cuman bikin mereka kehilangan kreativitas, mungkin mereka bakalan insaf. Tapi kadang mereka ngerasa enjoi. Bahkan ada yang nganggap latah udah jadi gaya hidup.” tambah Erwin.
Tapi apa semua yang latah itu nggak pengin pada sembuh? Rere paling nggak setuju kalau latah dijadiin gaya hidup.
“Jujur, aku menderita banget. Penyakit latah ini bikin hidup aku menderita. Coba bayangin, kalau kita ngomong atau ngucap sesuatu diluar kehendak dan dianggap sama orang lain sebagai badut kesiangan. Siapa mau?”
Cewek yang punya penyakit latah dari SD itu selalu nyoba buat berhenti. Tapi sepertinya, lingkungannya nggak ngedukung. Nyokap sama kakaknya latah. Dia jadi kesulitan ngendaliin diri. Tiap mau berubah selalu saja ada penghalang. Terlebih, temen-temen di sekolah juga banyak yang ngerjain dia. Alih-alih sembuh, dia malah semakin tambah latah.
“Yang paling aku benci, cowok-cowok di kelasku sering mancing aku buat ngomong kata-kata jorok. Aku sampai kadang malu.” kata Rere.
Rere punya pengalaman menggemaskan soal latahnya itu. Waktu ada guru yang melintas di depan Rere, temen-temen langsung godain. Nggak sadar dia ngomong alat kelamin pria di depan Pak Herman. Guru itu marah dan menggiring Rere ke ruang BK karena dibilang nggak sopan. Rere ngejelasin ke guru lajang itu kalau dirinya latah. Dia bilang sering kesal kalau dijailin temen-temennya. Akhirnya Pak Herman minta maaf dan berjanji bakal marahin anak-anak yang ngerjain dia lagi.
Kasus semacam ini banyak terjadi. Kita nggak bisa bilang kalau orang yang latah itu cuman nyari sensasi. Kita juga nggak tahu kalau latah itu muncul karena kebiasaan buruk seseorang yang suka meniru-niru. Kita juga kurang bijaksana kalau nuduh orang latah itu mengidap penyakit jiwa.
Mungkin lebih baik kita ngebiarin mereka aja kali ya? Atau lebih baik kita berusaha ngebantu, ngasih support biar mereka mau berubah. Kita nggak boleh ngejailin mereka dan bikin mereka tambah depresi sama kelatahannya. Yang lebih penting, jangan nyoba-nyoba buat latah! Nanti latah betulan lagi. Kata nenek itu berbahaya. Hahaha….

****
Pernah kan kita melihat orang yang latah....? Yaitu orang yang suka mengucapkan sesuatu kata2 di luar kehendaknya dikarenakan dirinya merasa kaget/terkejut. Ucapan latahnya orang yang latah itu misalnya; "Ehh.. copot...!!" Nah..., mungkin ada diantaranya adalah teman kita. Kalo diperhatikan..., kasihan juga ya rasanya, apalagi kalo ada teman kita yang lain yang suka jahilin orang yang latah tsb, waduh...., meskipun mungkin aja kita juga jadi ikut2an tertawa karena kelucuan orang yang latah tsb. Menurut anda..., kira2 apa sih yang menyebabkan orang itu bisa sampai latah seperti itu..? Ada gak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar