Episode 1
Apa yang aku ngerti tentang hidup? Perjalanan asing menyeret lenganku ke lembah antah berantah. Aku benci melihat keketusan dunia yang menghajarku pelan-pelan tanpa ampun. Juga api emosi yang membakar bokongku lalu melemparku ke peti mati!
Mungkin sumber semua sumber sampai bikin otakku kayak timber adalah monyet kecil yang sekarang mendekam di rumahku. (sebenarnya bukan sebangsa simpangse, dia adalah keponakan perempuanku yang usianya baru 2,5 th!). Betapa bencinya aku padanya! Aku ingin sekali mencincangnya lalu kujadikan sosis lalu kubagikan sama anak-anak di kompleks perumahan Telaga Asri. Biar aku disangka baik hati. (Ah, rasanya terlalu berlebihan kalau aku berkata demikian. Hiperbolis. Anarkis. Tapi realistis!!!!).
Terlebih kalau melihatnya memasang wajah seimut semut dan melendat lendot di bahuku. Rasanya aku ingin menelannya bulat-bulat biar dia mengeliat-ngeliat di perutku. Mungkin itu bisa menghemat uang belanja Bunda karena aku bisa nggak makan satu minggu!
Mataku jelalatan ke penjuru kamarku yang gelap. Geluaaap buuaangeeet! Habisnya dinding kamarku aku cat pake warna hitam. Semua! Meja belajarku juga aku cat sama. Bahkan aku sengaja pilih casing hitam komputer brengsekku itu.
Eits! Bukannya aku penggemar warna hitam. Sebenarnya aku benci banget warna hitam. Kalau aku lebih memilih, aku lebih suka warna pink atau kuning mentereng daripada warna misterius itu.
Lagi-lagi semua karena monyet kecil itu. Aku sengaja kasih warna hitam biar dia nggak masuk dan mengacak-acak kamarku. Aku juga pilih kelambu putih dan aksesoris menyeramkan lain biar monyet itu ketakutan dan menganggap kalau kamarku kuburan. Jahat bukan?
Huh! Kenapa aku jadi benci anak kecil? Kenapa aku nggak bisa nerima kalau gadis kecil itu keponakanku? Kanapa aku jadi juahaaat buanget! Kenapa? Kenapa?
Aku cuman bisa pasrah. Pasrah sedikit ogah. Berharap kalau kakak iparku yang brengsek itu menyulap bocah itu jadi embrio lagi. Berharap mbakku yang tuolol itu jadi sadar kalau suaminya memang brengsek! Aku menunggu pagi. Menunggu matahari. Menunggu peri. Melirik jam dinding. Oh….ternyata sudah jam dua pagi. Aku memilih tidur terlalu dini!
****
Pagi. Semua tambah buruk. Bukan cuman kabarku. Kabar bapak juga buruk. Dia makin terpuruk setelah tahu berita buruk yang menimpa mbakku itu. (Masalah ini akan aku certain belakangan!!)
Ayah kelihatan tambah tua dengan uban yang merias rambutnya. Sebenarnya aku usul ke beliau untuk pergi ke salon. Tapi ayah malah marah-marah. Kemarahan yang baru kulihat setelah aku genap enam belas tahun. Kemarahan yang menggelegar menampar-nampar hatiku. Juga hari-hariku.
Padahal, seminggu yang lalu ayah tak begitu. Beliau masih manis. Masih berwibawa dan murah senyum. Entahlah, makhluk ruang angkasa mana yang tega mengambil semua itu dari Ayah. Ayah kini nggak lebih sebagai bapak tua yang pemarah. Mirip pak Radennya si Unyil.
Bunda juga begitu. Lebih kaku dan tegas terhadapku. Aku yang biasanya keluyuran sama temen-temen cowok sekelasku, sekarang dilarang. Temen-temen komplek yang biasa nongkrong dan genjrang-genjreng di depan rumah dihalau kayak petani menghalau burung. Sampai-sampai aku disemprot Mas Ali, anak Pak RW yang juga Ketua Karang Taruna, gara-gara bunda mengusirnya waktu mau ngajak aku rapat kegiatan baksos.
“Dia itu perempuan. Jangan kamu ajari macam-macam. Dia bukan anak kecil lagi yang bisa kamu akali.” bentak Bunda pada Mas Ali. Aku bergidik mendengarnya. Dan kulihat dari jendela, Mas Ali melongo dibuatnya.
Ini sungguh tidak bisa dibiarkan! Jeritku dalam hati. Aku menyambar tas, menggebrak pintu kamar lalu kabur ke sekolah tanpa pamit tanpa sarapan. Ini memang tingkah kekanak-kanakkan! Tingkah anak kolokan. Tapi ini wujud protesku. Semoga saja ortu tahu!
****
Kelas udah ramai waktu aku masuk. Tapi masih ada waktu lima menit sebelum bel melengking. Ini hari jumat. Biasanya guru bahasa Inggrisku telat masuk lima menit. Aku gunakan waktu yang sedikit ini buat ngerjain pe-er jam pelajaran ke dua. Maklum, udah semingguan ini aku jadi malas belajar. Small monkey itu selalu saja menggangguku. Entah tangisannya yang kayak anak kucing kecebur got, atau guyonannya yang kayak tupai kesedak balon!
“Bagi dong!” kata Willy, temen sebangkuku.
Dia menyerobot buku pe-er Biologiku sambil nyengir kuda nil. Aku melotot menyeret bukuku kembali.
“Aku belum selesai, kodok!” pekikku nyaring sampai bikin semua penghuni kelas tertawa garing.
“Huh! Pelit!” kata cewek yang bodinya montok kayak kodok.
“Emangnya kamu belum ngerjain?” tanyaku galak.
“Beluum sih…” desah Willy yang bikin aku mau muntah.
Aku pengin sekali menampar pipinya kalau dia pasang wajah begitu. Aku paling benci lihat cewek manja. Apalagi dengan tingkah laku dibuat-buat macam Willy tadi. Jujur, lebih kurang seminggu ini aku ngalamin rasa super duper benci pas duduk sama Willy. Aku udah naruh firasat buruk. Bukannya aku takut lama-lama aku berubah bentuk jadi beruk. Aku cuma kurang setuju melihat kelakuannya di sekolah. (Sebenarnya-sudah-dari-dulu!!!) Pe-er selalu nyontek. Kalau tertawa ngakak. Telmi! Waktu pelajaran dipake buat dandan. Trus kalau dandan selalu over bikin wajahnya yang nggak cantik itu kelihatan kayak lemper!
Aku bilang begini bukan karena aku ngerasa cantik. Aku memang nggak secantik Paris Hilton. Struktur wajahku biasa aja. Kata Mas Ali, istimewaku cuma ada di mata. Bulat, bening, coklat, dan bulu mata yang lentik. Itu bikin Mas Ali tertarik (sayangnya bukan cinta). Badanku lumayan tinggi. 167 cm. Cukup buat bikin cowok pendek di sekolahku minder ketika kujajari. Rambutku sebahu yang selalu aku kuncir belakang.
Aku bukan cewek jenius. Tapi aku nggak pernah luput dari tiga besar. Dari awal masuk sekolah ini, cuman Angga yang jadi saingan beratku. Dia memang jenius, meskipun tampangnya agak menyedihkan. Tubuhnya gendut dan jerawatan. Rambutnya kriting dan kulitnya hitam. Mengingatkanku sama kambing di pasar hewan!!!
Yang paling menyedihkan, Angga selalu ngerayuku. Bukan soal cinta sih. Dia cuman pengin belajar Bahasa Indonesia sama aku. Karena cuman mapel itu yang jadi kelemahan Angga. Tapi aku selalu nolak beribu alasan. Bukannya aku nggak mau, aku cuman nggak betah lama-lama di dekatnya. Alasannya cuma satu: mulutnya bau jengkoool!!! Hih, menjijikan!!!
Yiha…pe-er biologiku selesai juga! Selang satu menit, Pak Rustam masuk membawa setumpuk kertas. Hatiku berdebar-debar. Keringat dingin mulai mengucur.
“Anak-anak! Hari ini kita ulangan! Kumpulkan semua catatan Bahasa Inggris kalian ke depan.” kata Pak Rustam dengan suara nyaring.
Mampus! Semalam aku nggak belajar! Kenapa nggak ada yang ngingetin?
Oh My God! Heeeeeeeeeeelp!!!!!!!
****
Episode 2
Gara-gara lupa ada ulangan Bahasa Inggris, hatiku jadi miris. Mana si Willy nggak ngebantu aku lagi. Aku kan paling benci bahasa negaranya Beckham itu. Kenapa ya musti ada pelajaran Bahasa Inggris. Les Bahasa Inggris juga lebih popular dari Les Bahasa Indonesia. Padahal kan, bahasa Indonesia jauh lebih penting. Nyatanya, nggak semua orang Indonesia bisa pake Bahasa negri dengan baik dan benar. Mungkin lain kali biar aku protes sama Kepsek biar ngilangin maple itu kali ya. Hehe…
“Pulang nggak?” tanya Willy sambil masukin peralatan sekolah ke dalam tasnya.
“Ya pulang, emange mau nginep? Siapa mau?”
“Pulang sendiri atau dijemput?”
“Jemput.”
“Sama Siapa?”
“Mas Ali.” jawabku asal. Walaupun tadi sempat sms minta jemput Mas Ali. Meski sampai detik ini belum ada jawaban.
“Gebetan baru kamu ya? Kenalin dong! Siapa tahu dia balik naksir aku. Hihihi…”
Aku mendelik. Norak banget sih ni anak! Belum pernah dimaki orang bisu kali ya? Insting sebelku mendadak muncul. Pengin banget aku menyumpal mulutnya dengan bantal.
“Kalau iya kenapa, kalau enggak kenapa? Emangnya ngaruh sama hidup kamu. Emangnya yang aku gebetin ini pacar kamu?”
Penginnya sih bilang gitu. Tapi nggak tega waktu liat mukanya yang imut-imut tapi kemayu. Akhirnya kata-kata itu kutelen kembali berbarengan sama ludahku yang mengering.
“Yuk!” ajakku kemudian sembari menggandeng tangannya dengan sepenuh hati.
Kami keluar berbarengan. Bergandengan. Meskipun aku nyimpen rasa sebel bertumpuk-tumpuk kayak kardus bekas.
Sebenarnya hubungan kami nggak ada masalah. Meskipun kemayu dan punya tabiat buruk yang aku benci, Willy tipe cewek bersahabat. Willy merupakan pindahan dari Jakarta. Meskipun kadang-kadang aku ragu apa benar dia gadis Jakarta apa bukan. Coz, gayanya sering norak nggak ketulungan!
Dari pertama dia masuk kelas dua sampai dua bulan lagi kita bakal masuk kelas tiga, kita duduk bareng. Bahkan sebelum musibah itu menampar keluargaku, aku juga biasa berlaku manis padanya. Akhir-akhir ini aja aku jadi keliatan kayak vampire. Pengennya nerkam orang yang nyepetin mata lalu menghisap darahnya sampai mati!
Tapi agaknya Willy juga ngerti kondisi jiwaku. Ngerti kalau aku udah benar-benar berubah bentuk jadi beruk yang berhati buruk! Hihihi….
“Mana cowok yang katanya mau jemput kamu?” tanya Willy di depan gerbang sekolah.
Bedaknya udah mulai luntur. Bibirnya udah mulai kekeringan. Lama-lama dia keliatan kayak ondel-ondel. Aku kasian juga sama Willy, gara-gara pengin liat cowok yang bakal jemput aku, dia rela berpanas-panas ria nungguin kedatangan si Arjuna.
Aku celingukan sambil menenteng helm milik anak kelas satu – soal helm ini, aku sempet adu mulut lama sekali. Aku sih nggak maksa! Tapi aku mengancam dengan sepenuh hati mau menggembosi ban sepeda motornya kalau dia nggak mau minjemin – yang aku pinjem tadi. Berharap Mas Ali yang baik hati itu segera muncul. Tapi udah setengah jam nunggu cowok yang jadi temenku sejak aku balita itu nggak nongol juga. Masalah Mas Ali, aku sama sekali nggak pernah cerita sama Willy
“Rev, pulang aja yuk! Panas nih…” ajak Willy.
“Bentar lagi. Paling semenit lagi.”
“Dari tadi bilangnya semenit lagi, semenit lagi. Kita nunggu hampir sejam lho! Tuh liat anak-anak udah sepi. Yakin deh pangeran kamu itu nggak bakalan datang.”
Aku berpikir sejenak. Bener juga kata Willy. Lagian ngapain aku nunggu. Lha wong Mas Alinya aja belum balas SMS.
“Oke deh.” putusku kemudian. “Tapi kamu yang bawa helmnya ya?”
“Enak aja. Kamu yang pinjem. Enakan di kamu dong!”
“Kamu kan yang ngajakin pulang. Jadi kamu yang bawa!”
“Sorry ya…”
Bus melintas di depan kami. Buru-buru si Willy nyetop. Daripada ribet bawainnya, pede aja aku pake helm Takachi yang gwede itu. Kondektur bus memelotiku dengan kejam. Kayaknya dia nggak rela kalau penumpang yang udah desak-desakan itu semakin terdesak dengan helmku.
“Naik bus kok pake helm.” kata kondektur bus sengit.
“Daripada naik helm pake bus!” kataku nggak kalah sengit.
Si kondektur melongo. Tapi aku nggak ambil pusing. Aku menarik tangan Willy dan menyeruak ke tengah. Nyari tempat yang nyaman. Meskipun bau khas bapak-bapak yang baru kerja proyek jalan plus asap rokok yang nggak manusiawi bikin dadaku sesak. Mungkin yang ngerokok di bus yang penuh sesak sarat muatan itu juga nggak manusiwi!
Ini benar-benar penyiksaan! Anarkis! Terlebih waktu Willy turun. Aku jadi nggak bisa berbagi rasa sesak pada siapapun. Tadi kan lumayan, perasaan itu bisa aku lupakan dengan guyonan bareng Willy. Sekarang?
“Minggir! Minggir! Minggir!” kata cowok berseragam putih abu-abu yang keliatannya mau turun menyeruak para penumpang.
Pas sampai di depanku, tuh cowok nginjak sepatu pentofelku. Aku mengaduh kesakitan. Si cowok aku tarik bajunya dan kutonjok mukanya. Jelas saja cowok itu kaget.
“Heh ngapain kamu nonjok mukaku?” kata cowok itu syereeem.
“Kamu sendiri ngapain nginjak sepatuku?” belaku.
“Aku nggak sengaja. Lagian kamu ngalangin jalanku! Aku mau turun tauk!”
“Siapa bilang kamu mau naik?”
“Dasar cewek tengil.” kata tuh cowok. Dia melotot padaku dan menjitak kepalaku (untung aku pake helm!)
“Dasar muka beruk!” balasku.
“Dasar kucing kudisan!” balasnya lagi.
“Badak jerawatan!”
“Dasar Kuntilanak stress!”
“Pocong nyungsep!”
“Kamu zombie kesleo!”
Keadaan jadi rusuh. Apalagi temen-temennya nyorakin nama Elang kayak supporter tinju neriakin jagoannya. Sedang aku ngerasa benar-benar sendiri. Nggak ada yang membelaku.
“Heh! Mau turun kagak!” teriak kondektur yang marahnya udah ke ubun-ubun.
“Iya, Mas!” teriak cowok yang aku tahu dari badge namanya bernama Singgih Elang Hermanto. Nama yang kayak antrean BBM!
“Turun Mana?”
“Bukit Asri.”
“Wah udah kelewat lima kiloan mas!” kata tuh kondektur.
“Apa????” pekik cowok itu. “Gara-gara kamu sih eh….Revalina Ranting Pohon!” kata cowok itu setelah membaca name tag-ku.
Otomatis aku nutupin dadaku sambil mengumpat sejadinya di dalam hati. Selain ngerasa muarah karena tuh cowok ngeliatin dadaku secara legal, aku juga muarah karena dia ngasih embel-embel di belakang namaku. Untung nggak sampai ngumpat orang yang ngasih namaku.
Ini yang aku benci dari namaku. Kenapa Ayah ngasih aku nama Revalina Ranting. Bukan Angelina Jolly atau Britney Spears! Gara-gara nama belakangku itu, hampir tiap hari aku diejek sama temen-temen. Ada yang bilang ranting pohon jambulah, ranting pohon manggalah. Apalagi kalau pas pelajaran anatomi tumbuhan, pasti deh, namaku yang manis ini dijadiin bulan-bulanan tanpa ampun.
Tapi aku suka sama namaku. Sangat suka malah. Meski aku belum sempat nanya ke Ayah sejarah munculnya ilham sampai nama revalinaku diakhiri dengan ranting!
Ngomong-ngomong soal ayah, aku jadi ingat rumah. Aku jadi ingat small monkey yang menyebalkan. Kenapa hidupku juga terasa menyebalkan! Hikhik!
****
Episode 3
Kiki, nama keponakanku yang belum sepenuhnya aku akui itu sudah menghadangku ketika aku membuka pagar. Bunda tertawa girang waktu balita itu menghambur memeluk lututku. Aku ngerasa geli. Geli sekaligus ngeri. Dalam khayalku, tiba-tiba saja tangan-tangan itu menjelma tentakel-tentakel ubur-ubur raksasa dengan sengatan listriknya yang kejam.
Aku hampir melemparnya. Untunglah aku tersadar lagi ke bumi. Pura-pura aku menggendongnya dengan setengah hati dan menyerahkannya ke Bunda.
“Kiki lucu ya, Bun!” kataku dengan senyum terpaksa.
Kalau bunda tahu sebenarnya di hatiku muncul kalimat seperti ini: Kiki sangat menyebalkan ya, Bun. Aku sangat ingin mencekik dan menjadikannya adonan sosis!
Tapi tidak. Mungkin aku nggak setega itu. Nggak setega ketika tangan bapak berhasil dengan gemilang menampar pipi Mbak Roro waktu pertama menjejakkan kaki setelah tiga tahun minggat dari rumah. Nggak setega ibu yang cuma berdiri kaku waktu Mbak Roro memohon-mohon dilututnya agar Kiki diijinkan menjadi bagian keluargaku. Nggak setega Ayah yang menonjok muka Krisna yang brengsek ketika mengantarkan Mbak Roro yang sudah dikumpulinya tanpa ikatan suci pernikahan!
Terus terang, aku benci cowok itu! Cowok yang udah menghancurkan keluargaku. Bikin berantakan masa depanku!
“Kapan Mbak Roro bakal ngambil Kiki? Kok udah tiga hari pergi nggak ngasih kabar? Jangan-jangan dia mau nitipin Kiki sama Bunda lalu dia enak-enakan pergi kayak dulu.” kataku kejam. Aku duduk di kursi teras sambil ngeliatin Kiki yang asyik lari-lari nangkep capung di halaman.
“Reva! Apa-apaan sih kamu. Roro sama Krisna lagi ke Jakarta. Ngambil barang-barang di kostnya yang dulu.”
“Emang mau diangkut ke mana?”
“Lho! Kan mereka mau tinggal di sini.” jawab bunda yang bikin hatiku benci. Agaknya Bunda mengerti perasaanku dari ekspresi wajahku. “Untuk sementara. Sebelum mereka punya rumah sendiri.” lanjut Bunda.
“Lagian, belum apa-apa udah brani bikin anak. Nah gini hasilnya, bikin repot orang tua!” kataku sambil lalu.
Aku melangkah gontai ke kamar. Nggak sengaja mataku berbenturan sama ayah yang lagi baca majalah di ruang tengah.
“Ayah nggak ngantor?”
Mendengar pertanyaanku, Ayah cuma menghela napas.
“Ayah nggak enak badan.” jawabnya singkat. Ayah kembali ke majalah.
“Akhir-akhir ini ayah sering banget nggak enak badan.” kataku sambil berjalan ke arahnya. Aku duduk di sofa sebelah ayah. Iseng-iseng kubolak-balik majalah bisnis milik ayah. “Ini nggak ada kaitannya sama Mbak Roro kan, yah?”
Ayah menghela napas. Jelas sekali kalau dadanya sesak. Mungkin pertanyaanku salah tempat. Tapi mungkin ini waktu yang tepat. Jarang banget ada suasana santai macam ini setelah peristiwa itu terjadi!
“Mungkin ada. Tapi nggak banyak.” jawab Ayah.
“Tapi nggak banyak itu yang justru mempengaruhi pikiran Ayah, kan? Reva bisa lihat kalau Ayah terpukul banget.”
“Orang tua mana yang tidak terpukul melihat kenyataan anaknya….. sudahlah! Belajar sana. Kamu juga punya masalah yang lebih penting daripada mikirin mbakmu itu kan?”
Sebenarnya aku pengin protes! Aku pengin ngomong ketidak adilan ini! Aku mau bilang kalau aku juga sakit hati. Tapi Ayah sudah motong pembicaraan lebih dulu.
Aku bangkit. Dengan lankah gontai aku masuk kamar. Menutup pintu rapat-rapat.
****
Langit-langit kamaraku mengitam. Semuanya menghitam. Aku ingin mengubur masa laluku yang brengsek itu. Aku ingin sekali mengenggelamkannya di palung yang paling dalam. Tapi mengapa wajahnya semakin lekat. Ah, mbuh! Lama-lama kerongkonganku jadi garing gara-gara terus memikirkannya!
- Rev! ktany mo djmpt.kq skul dah spi ci?
S**T! Kenapa baru sms sekarang?
Buodoooh!
Tuolol!
Aha, tapi kebetulan banget dia akhirnya ngejawab. Mungkin dia punya waktu buat jadi tong sampahku!
- Q dah nymp rmh! Can u halp me!
- Ad what?
- Bntar lgi aq kluar! Tggu d t4 biasa!
- Cip!!
Aku melonjak bangun dari tempat tidur. Mengganti serangam putih abu-abuku dengan celana pendek dan kaos oblong. Setelah pamit sama Bunda, aku pergi ke pojok lapangan dekat perumahan kami. Menemui Mas Ali yang baik hati.
Aku dan Mas Ali udah bersahabat sejak kecil. Sejak aku masih bayi malah. Selisih umurku yang lima tahun bikin kami kayak kakak adek. Malah kalau boleh jujur, Mas Ali jauh lebih menyenangkan dari Mbak Roro yang selisih usianya tiga tahun dariku. Mas Ali selalu ngertiin aku. Nggak kayak Mbak Roro yang judesnya minta ampun. Tapi itu dulu sebelum Mbak Roro minggat dari rumah dan menghasilkan bayi dengan cowok brengsek itu!
“Sori. Tadi smsmu nggak langsung aku baca.” kata Mas Ali waktu ngeliat aku tiba. “Da apa sih, dek? Kok tumben minta jemput. Biasanya kamu yang nolak kalau aku mau jemput.”
Mas Ali emang cakep. Kalau diamat-amatin, wajahnya mirip David Beckham (jangan bilang-bilang ya! Nanti dia ge-er!) Kami duduk santai di bawah pohon beringin besar di tepi lapangan. Udara yang berembus bikin suasana jadi adem.
“Nggak sih. Cuma bosen aja tiap hari naik angkot. Apalagi ditambah ketemu sama alien yang nyebelin. Bayangin, kita sampai perang mulut di angkot. Nggak nyangka ada cowok macam itu di dunia yang fana ini.” ceritaku panjang lebar.
“Cowok?” Mas Ali menatap penuh selidik. “Kamu udah punya cowok baru?”
“Mas Ali tu gimana sih? Aku kan cuman bilang ketemu cowok menyebalkan. Kita aja baru ketemu sekali itu.”
“Cakep nggak? Cakepan mana sama Mas?”
“Norak!” kataku pura-pura judes. Mas Ali tertawa ngakak.
Tapi beberapa menit kemudian kami terdiam. Pikiranku dipeuhi klise-klise masa lalu yang berseliweran. Sebenarnya ada satu cowok yang aku cintai. Sampai kinipun aku masih cinta. Tapi semuanya tlah jadi fosil. Nggak perlu para arkeolog membantuku untuk menggali remahan-remahan buat mbangkitin cintaku lagi.
“Rev, apa kamu masih dendam sama Roro dan Krisna?”
Deg!!! Pertanyaan Mas Ali bikin darahku berhenti ngalir. Kejadian seminggu yang lalu itu seperti mengoyak bagian yang sudah aku coba obati. Aku benci melihat tampang Krisna. Benci! Sangat benci!!!
“Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sayang banget sama Roro. Kalaupun sempat, Mas pengin nyegah Roro pergi. Kamu tahu nggak sebelum dia pergi, dia sempet datang ke kosku.”
“Kenapa Mas Ali nggak pernah cerita?”
Mas Ali menatap lepas.
“Karena waktu aku pulang, rumah udah geger kalau Roro minggat.”
“Bukannya waktu itu kalian masih pacaran?”
Aku ingat, betapa sayang dan perhatiannya Mas Ali sama Mbak Roro yang judes setengah mati itu. Dia selalu antar jemput Mbak Roro ke sekolah (waktu itu Mbak Roro masih kelas dua es-em-a). Dia nurut saja meski selalu dibentak-bentak. Kadang aku sampai ngerasa malu sama ulah mbakku itu.
“Yah... begitulah!!” jawab Mas Ali lemah.
Aduh, kenapa Mas Ali jadi sedih gini. Harusnya aku ngak nanya itu! Dasar begok!
“Kok Mas Ali dulu nggak ngasih tahu kalau mbak Roro minggat gara-gara hamil?”
Mas Ali tersenyum pahit. Mungkin kalau di teliti, di dalem tenggorokannya ada selembar daun bratawali.
“Waktu ke kost, dia nangis-nangis minta maaf. Dia nyuruh Mas nutup mulut dan nggak cerita sama keluarga. Katanya, yang hamilin mau tanggung jawab.”
“Krisna!” desahku pahit. Pengen banget rasanya mengiris daging cowok itu. Lalu memakannya bersama saos botolan.
****
Episode 4
Mungkin Mas Ali benar. Aku nggak boleh tenggelam sama masalah itu. Tapi makin hari hatiku makin beku. Kebencianku sama Kiki makin menjadi. Nggak tahu kenapa anak kecil itu bikin hari-hariku terasa mati. Aku nggak punya daya buat bangkit lagi. Semua tenagaku keserap sama dendam segede gunung.
Mungkin keliru kalau aku mengadu. Ngomong sama Ayah cuma bikin masalah tampah parah. Apalagi bilang ke bunda. Sebenarnya siapa sih, yang musti aku salahin? Mbak Roro atau Krisna? Kalau Kiki jelas nggak boleh. Anak itu nggak ngerti apa-apa.
Foto keluarga yang terpajang di dinding kamar makin menyiksa batin. Aku benci melihat gadis yang kelihatan polos itu. Nyatanya dia nyimpan berjuta kebusukan.
Semua itu berawal ketika Mas Ali menelfonku pagi-pagi sekali dan nyuruh aku buat nguatin hati. Beberapa detik kemudian, aku mendengar jeritan Bunda dari teras rumah. Aku pikir Mas Ali berubah jadi dukun dadakan dan tahu kapan seseorang bakal ngalamin celaka.
Aku buru-buru menghambur keluar dengan berjuta kecemasan dan kemungkinan atas jeritan bunda. Alangkah terkejutnya saat melihat Mbak Roro berdiri dengan berani di depan Bunda. Dia menggendong bayi perempuan yang lucu sekali. Di sampingnya Krisna tegap berdiri.
“Ayah, Bunda, Maafin Roro!” rengek saudara perempuanku itu.
“Mungkin kamu sudah salah rumah. Coba cek lagi alamatnya. Aku tidak punya anak yang berani minggat dan menyusahkan orang tua.” kata Ayah tenang. Tapi aku tahu, Ayah menyimpan kemarahan yang besar.
“Tapi ini Roro, Yah. Anak Ayah!”
“Lalu apa kamu juga akan bilang kalau bayi itu juga cucuku?”
Mbak Roro mengangguk ragu. Kemarahan ayah membuncah. Tangan kanannya melayang dan tepat mengenai pipi Mbak Roro. Tanpa berkata-kata Ayah masuk ke dalam. Di susul ibu sedari tadi hanya membisu.
“Dek, tolong kakak!” rengek Mbak Roro. “Mbak tahu sudah bikin kamu sakit hati. Tapi kasih mbak kesempatan buat ngejelasin…..”
“Rev, maafin aku…” kata Krisna.
Aku menatap cowok brengsek itu. Dia tertunduk malu. Wajahnya merah ungu. Sepertinya aku tidak betah lama-lama berdiri di tempat ini. Telapak kakiku seperti tertusuk duri ikan hiu. Lantas aku turut masuk. Menutup pintu setelah memastikan kalau cowok itu benar-benar Krisna!
****
Aku masuk kamar dengan airmata deras bercucuran. Semua terasa serba nggak mungkin! Dan terasa nggak mungkin lagi melihat kenyataan bahwa cowok yang menghamili kakakku itu adalah Krisna: cowok yang tiga tahun yang lalu menyatakan cinta dan memberiku ciuman pertama!
Ini benar-benar sebuah kejutan! Kejutan yang mematikan!
Yang aku sesali adalah Bunda. Mungkin saking kuat nalurinya hingga akhirnya dia mau dan mampu membuka gerbang maaf selebar-lebarnya dan mempersilahkan Mbak Roro dan Krisna menginjak ruang keluarga kami setelah berjam-jam Mbak Roro, Krisna dan Kiki menunggui di teras rumah.
Aku nggak ngerti kenapa Bunda begitu lembut. Atau mungkin begitu lemah? Hatinya selembut kapas hingga sanggup menerbangkan semua amarah dan dendam pada Mbak Roro. Kecuali ayah dan aku yang sama-sama sekeras batu.
Mbak Roro dan Krisna tinggal serumah dengan kami. Nggak ada tegur sapa antara aku dan Mbak Roro. Terlebih sama Krisna. Tiap kali Krisna mengejar, mungkin pengin ngejelasin, aku selalu ngindar. Aku nggak mau terjatuh lagi. Aku nggak mau dia membangkitkan perasaanku yang purba macam Mummy!!
Bunda jadi sering ngerayuku buat baikan sama Mbak Roro dan Krisna. Di kira aku kecewa dan malu karena perbuatan mereka. Tapi Bunda nggak tahu masalah sebenarnya! Bunda nggak ngerti kalau aku dan Krisna dulu sempet pacaran. Bunda nggak ngerti kalau dulu aku sayang banget sama Krisna. Nggak ada seorangpun yang ngerti. Ini cinta rahasia yang aku bina bareng Krisna. Cinta yang bikin hidupku ambur radul! Cinta yang akhirnya berubah jadi dendam tujuh turunan!
Dan selama tiga tahun aku nyari-nyari kabar keberadaan dia. Aku nggak tahu kalau ternyata selama tiga tahun dia hidup bareng tanpa ikatan pernikahan bareng Mbak Roro. Kakakku sendiri!
****
Agak terburu aku berjalan di koridor. Jam tujuh udah lewat sepuluh menit yang lalu. Aku tahu bakal dapat hukuman dari Pak Abdul. Guru Matematika yang galaknya minta ampun. Tapi aku nekat saja masuk kelas.
Dan…. Alangkah leganya waktu aku nggak ngedapatin Pak Abdul di kelas.
“Untung aja Pak Abdul lagi ke kantor ngambil penggaris. Kalau enggak pasti kamu udah di strap di depan kelas.” kata Willy sambil cengengesan.
“Ini hari keberuntunganku.” kataku tersenyum menang.
“Lain kali kayak gini lagi, kamu pasti ketangkep!” Willy menyapukan spons ke wajahnya dan memolesi bibirnya dengan lipglos.
Aku menerawang whiteboard yang sebagian udah berisi rumus-rumus. Mungkin hidupku sama sulitnya dengan rumus-rumus itu. Mungkin aku perlu perjuangan ekstra biar semuanya bias diselesaikan dengan mudah!
Huh!!! Nggak ada hal yang menyenangkan di ruang kelas ini selain ocehan Pak Abdul tentang rumus-rumus eksak sambil sesekali melempar spidol sama anak-anak yang ngobrol bergerombol. Untung Willy nggak ikut-ikutan ngajak aku ngobrol. Bahkan dia nggak nyinggung sedikitpun tentang cowok yang kemarin nggak jadi jemput aku. Agaknya aku juga nggak tertarik buat nyeritain pertengkaran hebohku di dalam bus kota!
“Pulang sekolah kamu dijemput lagi?” tanya Willy pas istirahat.
“Kayaknya enggak. Mas Ali lagi sibuk.”
“Oh, gebetan kamu itu namanya Ali?” tanya Willy menggoda.
Aku mencubit gemas lengan Willy.
“Mas Ali itu tetanggaku. Anak Pak RW. Aku dan dia udah kenal sejak aku masih bayi. Dia udah aku anggap kayak kakakku sendiri.” jawabku panjang lebar.
“Jadi ada kesempatan buatku dong!”
“Silahkan kalau mau. Tapi Mas Ali bukan tipe kamu. Dia orangnya jelek, kudisan, panuan, jerawatan, kalau tidur ngorok, rambutnya kriting. Pokoknya idiom jelek ada sama dia deh! Kamu nggak bakalan tertarik!”
“Masak sih?”
Aku nggak ngasih komen. Biar dia mikir seribu kali kalau mau deketin bahkan ketemu sama Mas Ali. Lagian aku nggak rela kalau Mas Ali jadi pacar Willy. Bukannya aku cemburu. Kayaknya nggak level banget anak secakep dan secerdas Mas Ali yang udah punya usaha sendiri itu jadi pacar cewek telmi macam Willy!
****
Seperti biasa, siang ini aku nunggu bus kota sama Willy di depan sekolah. Sedari tadi Willy heboh sama dandanannya. Sepertinya dia nggak rela kalau wajahnya yang pas-pasan itu bakalan berminyak. Tiap kali dia ngerasa berkeringat, bedak selalu dia sapukan. Kalau aku sih, mana sempat!
Bus yang aku nanti datang juga. Untung nggak begitu penuh sesak kayak kemarin. Malah bisa dibilang lumayan longgar. Aku milih jok belakang sama Willy. Setelah Willy turun, tiba-tiba seorang cowok duduk di sebelahku.
“Kamu kan cowok yang kemarin? Ngapain duduk di sebelahku? Dasar cowok muka beruk!” kataku sewot.
Elang yang tiba-tiba kena labrak kontan kaget.
“Kok kamu nyalahin aku sih, bebas dong aku mau duduk di mana. Ini kan bus umum.”
“Kamu nggak inget kemarin udah bikin aku muuuaraaaahhh buuuanggeet!”
“Aku nggak ngerasa nyalahin kamu. Kenal juga nggak!” katanya sambil nyoba ngeliatin dadaku. Mungkin dia nyari badge nama di bajuku.
“Ohhh, kamu cewek yang kemarin itu? Sori aku nggak ngenalin. Kan kemarin kamu pake helm. Jadi aku nggak gitu-gitu jelas sama wajah kamu.” kata Elang.
“Ya udah kamu minggir. Tuh tempat duduk masih banyak yang kosong.”
“Aku maunya di sini!” kata cowok itu nggak mau ngalah.
“Heh! Rajawali, aku nggak mau bertengkar sama kamu kayak kemarin! Mending kamu nyingkir deh!”
“Aku nggak mau nyingkir!” kata cowok itu kemudian pura-pura tertidur.
Daripada lama-lama debar kusir. Mending aku menyingkir. Toh apa untungnya debat kusir dalam situasi yang nggak memungkinin ini? Oh My God! Kenapa aku musti ketemu sama cowok tengil ini lagi?
***
Episode 5
Derum mobil di teras rumah bikin tidur siangku terganggu. Aku mengintip dari jendela. Mbak Roro turun dari mobil travel berplat ‘B’. Dua detik kemudian Krisna turun juga. Dia membongkar barang-barang dari mobil itu.
Mungkin ini yang dimaksud Bunda ‘untuk sementara mereka bakal tinggal di sini’. Itu artinya, hari-hariku bakalan hancur lagi. Hancur lebur kayak bubur!
Bunda dengan senyum lebarnya menyambut kedatangan anak kesayangannya itu. Uh, sial! Kenapa small monkey itu juga turut merajuk? Dengan bahasa balitanya dia seolah bisa menyihir semua orang. Aku yang paling nggak suka. Aku yang paling muak melihatnya. Terlebih melihat Krisna!
Aku keluar untuk melihat lebih jelas seberapa harmonis sih mereka? Pikiranku dipenuhi setumpuk lahar panas dan aku berharap banget kalau tiba-tiba Krisna bakalan kena muntahan lahar itu.
“Rev, mbok bantuin mbakmu beresin barang. Biar ibu jaga Kiki.” kata Bunda.
“Aku mau ngerjain pe-er. Nanti kalau udah seleseai aku bantu.” alasanku sambil lalu.
Aku pergi ke kamarku yang bercat gelap. SE-GE-LAP SU-A-SA-NA HA-TI-KU!!!!!
Mungkin lain kali aku ganti saja cat dindingku dengan warna cerah ceria seperti sedia kala. Biar hari-hariku berubah jadi ceria juga. Tapi baru lima hari ini aku ganti cat hitam. Aku takut Bunda curiga dan tahu kenapa aku nekat ngecat sendiri buat ganti warna-warni yang aku sukai. Meski sebelumnya aku bilang begini waktu bunda melarangku: Ini lagi trand Bunda! Bunda sih, nggak gaul!!!
Gaul apaan?
****
“Rev, antar Mas Krisna ke Indomart dong! Susunya Kiki habis.” kata Bunda waktu aku nonton teve di ruang tengah.
Aku menoleh Bunda. Menoleh Mbak Roro yang keliatan sibuk mondar mandir menata kamar barunya. Melirik ayah yang hanya diam sambil membaca koran. Krisna sudah berjaket dan menenteng helm. Ini benar-benar sore yang menyebalkan! Agaknya Bunda sengaja bikin skenario biar aku mau maafin cowok brengsek itu. Hatiku jelas-jelas menolak keras! Menolak dengan tegas!
“Sama Bunda aja.”
“Lho! Bunda kan lagi repot bantuin Mbak Roro.” Bunda menatap lembut. Aku nggak kuasa nolak kalau Bunda udah gini. Tapi…. “Udah cepetan! Kasihan Kiki. Dari tadi belum minum susu! Lagian kalian dulu akrab banget dan sering jalan bareng, kan?”
Kalau bukan Bunda, sudah aku tonjok orang yang berani berkata demikian! Memang sih, semua keluargaku kenal sama Krisna. Krisna tuh dulu temen kuliah Mas Ali. Dia anak Surabaya. Katanya sih, anak pengusaha. Tapi kok pendidikan moralnya kurang gitu ya?
Pas semester tiga dia mulai numpang di tempat Mas Ali. Mas Ali yang biasa numpang makan di rumahku sering banget bawa-bawa Krisna ke sini. Kami jadi deket. Setengah tahun sebelum Mbak Roro minggat, Krisna nembak aku. Waktu itu aku masih kelas dua es-em-pe.
Kita sempet pacaran. Bahkan sempet ciuman dua kali. Menyedihkan sekali waktu aku sama sekali nggak tahu Mbak Roro juga naksir Krisna. Padalah dulu dia masih jadi pacar Mas Ali. Hingga insiden itu terjadi. Anehnya, kok aku nggak curiga kepergian Mbak Roro dibarengi juga sama kepergian Krisna? Mas Ali hanya bilang, Krisna pindah ke Surabaya. Kembali ke ortunya. Tanpa nanya lebih jauh….
“Lho kok malah bengong?” Bunda mengagetkan lamunan sejenakku. Aku menarik napas.
“Ya deh!” jawabku setengah hati.
Dengan terpaksa sekali aku berangkat. Aku membonceng motor ninja milik Krisna. Motor yang tiga tahun lalu menjadi saksi cinta kita. S**t! Kenapa aku musti bernostalgia? Bernostalgia kayak nonton film India!
****
Motor melaju pelan. Agak risih juga aku berboncengan sama kakak iparku yang mantan pacarku itu. Tapi kok lama-lama arahnya nggak ke Indomart. Tapi jalan menuju taman kota!
“Kamu yakin ini jalan ke Indomart? Kayaknya kamu udah lama banget tinggal di sini? Kok nggak apal-apal juga? Mungkin saking lamanya kamu di Jakarta kali ya?” berondongku sengit.
Krisna nggak ambil suara. Dia terus melajukan motornya.
“Turunin aku di sini!”
Krisna diam!
“Kris! Kamu denger nggak sih? Aku mau turun!” teriakku lantang.
Krisna masih diam. Dia malah belokin motor ke salah satu sudut taman.
“Mau kamu apa sih?” bentakku setelah Ninja-nya berhenti.
Aku masih nangkring di jok belakang. Bisa kamu bayangin gimana perasaanku saat ini. Kamu pun mungkin bakal ngerasain hal yang sama kalau mantan pacar kamu yang jadi suami kakak kandungmu ngajak kamu ke tempat pacaran kamu dulu!
“Aku pengin kamu ngerti satu hal.”
“Oh, tentang itu. Aku udah ngerti. Ngerti semuanya. Kamu, mbak Roro, Kiki dan kebrengsekan kamu sama aku. Kamu nggak usah sok manis di depanku deh! Aku udah lama ngubur perasaan itu. Udah aku kubur sejak zaman Pitecontropus Erectus!!!!”
Krisna terdiam. Aku juga ikut-ikutan diam. Agaknya diam jadi alternatif terbaik. Tenggorokanku seperti tersumpal bantal. Sebenarnya aku pengin ngomong semacam: Kenapa tiga tahun yang lalu kamu ninggalin aku? Kenapa kamu tega ngianatin cinta aku? Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu cinta sama Mbak Roro sehingga harus sembunyi-sembunyi juga ngejalin hubungan bahkan sampai hamil!
Tapi mungkin aku dicap ndangdut banget kalau kata-kata itu sampai bertaburan kayak busa yang keluar dari naga yang nelen sabun cuci waktu nyilem ke samudra Hindia.
“Rev, aku nggak nyalahin kamu cuek sama aku. Aku juga nggak bakal maksa kamu buat baik sama aku. Cuma kalau dikasih kesempatan, aku pengin ngomong kalau aku sayang banget sama kamu…”
“Kok bisa ya ada orang yang sayang sama dua orang yang masih kakak adek. Gejala social macam apa ini? Mungkin lama-lama kamu juga bakal sayang sama Bunda!” kataku judes.
“Rev, aku sayang kamu itu cuma sebagai adik…” (kata-kata basi) “Perasaanku sama kayak perasaan Ali sama kamu….” (ini lebih basi) “Aku pengin kamu nerima aku jadi bagian keluarga kamu…” (yang ini lebih basi lagi) “Aku nggak mau pikiranmu selalu dipenuhi sama hal-hal buruk tentang aku…” (basi, basi, basi!!!!!!!)
“Nggak kamu sebutin aku juga udah ngerti dari tadi apa yang bakal kamu bilang.” Cegahku sebelum dia ngeluarin kata-kata yang bakal bikin aku lebih sakit hati. “Mending kita pulang, beli susu anakmu itu. Aku janji nggak akan ngusik hidupmu sama kakakku. Lebih-lebih sampai ngerebutin kamu atau ngerayu kamu biar balik sama aku kayak tiga tahun lalu.”
“Rev!!!”
“Bener! Aku bisa kok ngelupain kamu dengan mudah. Sama kayak kamu ngelupain aku. Lagian kamu kok bias-bisanya ngamilin anak orang sih? Emang nggak pake pengaman?” kataku udah mulai kacau.
“Rev!! Aku berbuat itu karena hilaf! Aku….”
“Aku nggak nyalahin kamu kok. Toh itu bukan urusanku!” kataku sedikit gemetar. “Eh, perut aku kok tiba-tiba mual gini ya? Mending buruan starter motor kamu sebelum aku muntahin jaket kamu! Buruan!” teriakku.
Krisna masih bengong. Tapi lama-lama dia mau juga nyalain mesin.
Mungkin emang udah saatnya aku mengakhiri. Mungkin aku harus ikhlas nerima kenyataan kalau Krisna itu kakak iparku. Toh aku sudah nggak cinta sama dia. Cinta itu udah nguap dan terbang ke awan buat diproses jadi hujan! Lalu cinta yang udah jadi hujan itu turun di gunung, jatuh ke sungai, melebur bareng debit air yang buanyak dan ujung-ujungnya ke laut! Bener banget! Cintaku itu emang harus aku buang ke laut. Biar dimakan hiu dan berproses jadi kotoran yang bakal dimakan ikan-ikan kecil dan sebagian lagi jadi pupuk rumput laut. Biar mereka pada gemuk makan cintaku. Atau justru mati keracunan gara-gara cintaku yang pahit menggigit!
Lho! Kok jadi ngelantur begini?
***
Episode 6
“Beneran semalam kamu diajak jalan sama Krisna?” Mas Ali kaget waktu aku curhat masalah semalam.
Minggu pagi di pojokan lapangan kayak gini bikin hati terasa ayem. Udara yang sejuk bikin aku dan Mas Ali bisa leluasa menghirup oksigen. Tapi nama Krisna bener-bener bikin polusi. Bikin dadaku mendadak sesak kembali.
“Nggak sih. Cuman ngebeliin susu buat Kiki.” jawabku.
“Lho, katanya kamu diajak ke taman segala?”
“Klarifikasi. Mungkin dia kangen kali. Dia kan ular sanca. Bisa nerkam dua mangsa sekaligus.” kataku ketus.
“Memangnya dia bilang apa sampai bikin kamu muring-muring gitu?”
“Biasalah… ngejelasin hal-hal basi.”
Mas Ali tertawa ngakak mendengar kata-kataku barusan. Mungkin dia anggap lucu. Tapi ini fakta. Apa yang Krisna omongin memang semuanya basi! Cuman lalat aja yang bisa betah lama-lama mendengar celotehnya.
“Mas kok malah ketawa sih?”
“Lucu aja ngeliat ekspresi kamu gitu. Tapi memang bener, kalau kita udah benci sama orang, tuh cowok gantengnya kayak Brad Pitt sekalipun, tetep aja keliatan kayak beruk. Hahaha…..”
Kini gantian aku yang tertawa. Tawa yang getir.
“Udahlah, Rev! Yang lewat biarin lewat. Kamu toh masih punya masa yang panjang buat nyari cowok yang bener-bener sayang sama kamu. Aku aja bisa ngelupain Roro. Kok kamu nggak bisa ngelupain Krisna?”
“Mas Ali kan cowok.”
“Lho siapa bilang aku perempuan?”
“Maksudku, cowok itu kan bisa lebih mudah ngelupain mantan daripada cewek.”
“Sama aja, Non! Cowok juga ada yang sulit banget nyari ganti mantan. Itu kan menyangkut personality.” kata Mas Ali sambil mengacak rambutku.
Aku tersenyum. Menikmati kehangatan kayak gini emang jauh lebih nikmat dari secangkir kapucino di kafe-kafe mahal semacam De La Pista atau Pastero. Itu lho, kafe yang ngejual secangkir kopi sampai ratusan ribu. Padahal tinggal beli kopi bubuk atau neskafe yang nggak nyampe seribu, bisa juga nikmatin kopi. Eh, jadi ngelantur!
“Dek, sebenarnya, Mas pengin ngomong sesuatu sama kamu.” kata Mas Ali tiba-tiba.
“Ngomong apa?” aku mengeryitkan dahi. “Mas nggak bermaksud nembak aku, kan?” tebakku.
“Kalau benar kenapa?”
Aku terdiam. Mas Ali keliatan serius banget waktu ngomong. Apa mungkin iya? Kok aku mendadak gemetaran gini ya? Oh my God! Masak habis patah hati sama kakaknya sekarang mau nembak adeknya? Apa karena Mas Ali pikir aku juga lagi butuh orang yang bisa ngasih cinta?
“Mas!” desakku.
Mas Ali tersenyum simpul.
“Nggaklah…. Masak aku mau nembak adek aku sendiri?” kata Mas Ali kemudian sambil ngacak-acak rambutku.
Aku bernapas lega. Kirain….
“Tapi Mas bener-bener pengin ngomong sama kamu.” kata Mas Ali penuh ekspresi.
“Apaan sih mas? Kok berbelit-belit gini?”
“Mas…. mau… pindah ke Jakarta. Mas dapat tawaran di perusahaan milik temen Ayah. Besok Mas berangkat naik kereta pagi.”
“Kok mendadak banget sih? Tuh kan, Mas Ali nggak pernah ngomong kalau ada apa-apa. Mas jahat banget sih! Harusnya kan dari dulu-dulu mas ngomong. Jadi aku bisa nyiapin sesuatu.”
“Emang mau ngasih apa? Kebersaaan kita selama ini udah bikin hari-hari mas hidup. Mas malah terimakasih banget.” kata Mas Ali yang anak tunggal itu sambil memelukku.
“Ih, kayak film India.” komenku.
Tapi aku menikmati pelukan Mas Ali. Ini pelukan paling hangat yang pernah aku rasakan. Pelukan seorang sahabat. Pelukan seorang kakak….
****
Ada pepatah yang bunyinya gini: Kehadiran seseorang akan terasa kalau dia udah pergi. Aku ngerasain hal yang sama ketika Mas Ali pergi. Aku nggak bisa nahan haru waktu Mas Ali pamit sama keluargaku. Ayah memeluknya dengan tatapan haru seorang ayah. Bunda sampai menangis tersedu-sedu dan minta maaf karena akhir-akhir ini dia jadi galak padanya. Padahal tanpa Mas Ali mungkin aku udah jadi makhluk paling rapuh sedunia. Sayangnya Bunda nggak nyadarin hal ini.
Mbak Roro yang ngerasa salah juga turut sedih. Waktu salaman aku ngeliat gelagat lucu mereka berdua. Krisna yang berdiri di samping Mbak Roro sambil gendong Kiki bukannya nggak nyadar, tapi dia ngebiarin mereka sekejap bernostalgia.
Sebelum berangkat, mas Ali sempat berbisik sesuatu yang sangat pribadi. Sayangnya aku lagi pelit berbagi! Hehehe….
“Hati-hati ya Mas Ali!” kataku sambil mengecup pipinya lembut.
“Reva… Reva, udah gede masih aja manja. Nanti kalau pacarnya ngeliat kan bisa berabe.” kata Bunda tertawa lepas. Disusul anggota keluargaku yang lain.
Dalam hati aku mengumpat: Emangnya aku topeng monyet yang kerjanya cuman buat ngibur orang apa? Tapi lumayan, setidaknya tawa mereka mampu menyurutkan ketegangan di keluargaku.
****
Pagi hari yang puuuanaaaass!!!!
Rasanya aku nggak betah mendengarkan ceramah Kepsek yang nyaring tapi garing. Tiap upacara, selalu saja kalimat ini yang keluar: Kalian musti rajin belajar! Menjadi anak yang pintar agar tidak ngecewain ortu bla bla bla…
Dari awal aku masuk sekolah ini dua tahun yang lalu, aku sudah mengira kalau Pak Kepsek punya penyakit latah. Nggak punya kreativitas buat memperbaiki pidatonya yang buruk. Mungkin perlu juga ngundang tokoh-tokoh penting macam Barack Obama. Biar pak Kepsek bisa belajar dan memperbaiki pidatonya yang sepanjang sungai nil, tapi isinya nihil!
Aku melirik Willy yang mulai keringetan. Bedaknya luntur. Eye liner hitam pekat yang dia pakai juga luntur berbarengan sama keringat. Bikin dia kayak nangis tinta cumi. Angga yang milih berdiri di sebelahku sudah mengeluarjkan bau belerang yang menyengat. Membuatku mau mati sekarat! (Masih inget Angga kan? Itu lho cowok jenius yang hobi makan jengkol!)
Setelah hampir satu jam berdiri, akhirnya upacara selesai juga. Anak-anak berhamburan nyari tempat yang adem sambil ngibas-ngibasin keteknya yang basah oleh berkeringat.
“Ke kantin yuk!” ajak Willy waktu aku ngelewatin koridor.
“Nggak ah. Males.” jawabku.
“Biasanya tanpa diajak, kamu udah kabur ke kantin duluan. Ya udah, kalau gitu aku ke kantin dulu.” kata Willy sambil lari-lari kecil ke kantin.
Dengan langkah gontai aku berjalan ke kelas. Pas aku mau duduk, tiba-tiba Angga memanggil namaku.
“Ada apa Ngga?”
“Nih!” kata Angga sambil ngasih kado mungil berpita merah.
“Maksud kamu apa ngasih aku kado segala? Aku kan nggak ulang tahun?”
“Udah terima aja!” kata Angga sambil meraih tanganku dan meletakkan kado itu di tanganku.
Dia tersenyum penuh arti. Membuatku menggigil ngeri. Apa ini kejutan mematikan berikutnya? Apa mungkin sikap dia (yang suka ngejar-ngejar aku) itu wujud perasaannya? Apa mungkin kado ini….
What’s wrong? Aku benar-benar kehilangan kata-kata. Aku nggak ngerti musti bagaimana? God heeeeeeeeeellpp!!!!!!!!
****
Episode 7
“Jangan ge-er, Non! Ini bukan dari aku. Tadi pas aku nyampe skul ada cowok cakep yang nitipin kado ini buat kamu.” kata Angga yang bikin hatiku lega. Bayangin aja kalau Agga nembak aku. Apa kata dunia???
“Namanya siapa?” jawabku sambil mengamati kado misterius itu.
“Aduh, sori, aku nggak ingat. Tadi kayaknya dia buru-buru banget. Kalau badgnya aku kenal. Dia anak SMK N 11.” jawab Angga sambil ninggalin aku yang masih surprise.
Sepertinya aku nggak punya temen yang sekolah di sana. Mungkin salah kirim. Tapi kepadanya kok ditujuin ke aku. Kalau salah ngasih, nggak mungkin. Karena di SMA N 1 ini cuma aku yang punya nama Revalina Ranting!
Aku nggak nafsu buat cerita sama Willy soal kado misterius yang isinya gantungan kunci boneka lucu itu. Kalau aku cerita, pasti dia bakalan heboh. Dia bakal ngasih tahu ke semua orang lalu masang gaya sok detektif buat ngungkap identitas si pengirim. Mungkin lain kali akan aku ceritakan kalau Mas Ali nelpon atau nanti biar aku sms ke dia saja.
****
Pas pulang sekolah, aku ketemu Elang lagi. Ini untuk yang ke sekian kali. Tapi aku nggak nemuin wajah menyebalkan sama cowok yang biasanya mincing emosi buat maki-maki. Malah hari ini dia kelihatan manis sekali. Buktinya dia nyerahin tempat duduk pas aku gelayutan kepanasan di bus kota. Untung saja Willy udah turun dulu. Mungkin dia sengaja nunggu temenku yang super heboh kalau liat cowok cakep itu pergi.
“Kamu nggak capek berdiri?” tanyaku setelah terjadi adu diam cukup lama. Jujur, aku kebingungan mau ngomong apa. Dari tadi cuma kata terimakasih aja yang keluar dari mulutku.
“Nggak.” jawabnya pendek. Mata kami saling bertemu dalam durasi yang cukup lama. Kami saling senyum. Dia memang asli cakep. Lebih cakep dari Krisna. Tapi kok dulu dia sempet-sempetnya bikin aku sebel gara-gara maki-maki aku yang nggak senonoh!!!
“Rumah kamu sebenarnya di mana? Dulu kok pernah turun di Bukit Asri. Padahal kan Bukit Asri deket banget sama sekolahku.”
Elang cuman menjawab dengan senyum.
“Eh, aku turun dulu ya! Entar malah kelewat kalau nggak siap-siap sekarang. Makasih semuanya ya!” jawabku sambil bangkit.
“Okey! Ati-ati ya!”
Aku membalasnya dengan senyum. Nggak tahu gimana awalnya hatiku tiba-tiba berdebar kencang. Sebelum turun, aku sempat menolehnya. Dia masih menatapku dengan tatapan yang sulit aku tebak. Hatiku tambah bergetar. Berdegub makin kencang. What’s wrong with me????
****
Krisna dan Mbak Roro sedang asyik bercengkerama di teras rumah waktu aku pulang. Bunda sedang jagain Kiki yang berlari-lari sambil berceloteh dan tertawa ceria. Aku ngerasa Bunda jadi lebih sayang sama kiki. Kadang aku ngerasa iri karena waktu Bunda jadi lebih banyak buat Kiki.
Tanpa menyapa mereka aku masuk dan langsung ke kamarku yang masih saja gelap. Kalau Ayah sudah pulang ngantor, mungkin aku bisa curhat. Cuman Ayah yang bisa ngertiin perasaanku meskipun tiap ngomong selalu diputus dulu. Kalau aku bilang ke Bunda, paling-paling Bunda bakal nasehatin biar aku baikan sama Mbak Roro.
Tapi bukannya aku udah baik? Aku nggak ngusir mereka meski jelas-jelas kehadiran mereka mengusik ketentramanku.
Mungkin juga kalau Mas Ali nggak pindah ke jakarta, mungkin aku nggak bakal bete kayak gini. Mungkin aku bisa langsung cabut dan nongkrong sampai sore di pojok lapangan sambil ngobrol ngalor ngidul buat ngebunuh kejenuhan!
“Rev! Makan dulu. Bunda dah masakin opor kesukaan kamu.” kata Bunda sambil menyembulkan setengah badannya di pintu kamar.
“Ya, Bun!” jawabku pura-pura sibuk membaca.
“Kalau udah selesai makan, tolong kamu antar Mas Krisna ke rumah Tante Ana buat pesen kue, ya! Besok Bunda dapat giliran arisan.” Bunda duduk disebelahku yang tengkurap di atas tempat tidur.
“Kenapa bukan Mbak Roro saja sih? Masak Reva terus yang disuruh buat nganter? Mbak Roro kan istrinya Krisna!” protesku tanpa nyebutinh kata ‘Mas’ di depan nama Krisna. “Bunda sengaja kan ngatur-ngatur kayak gini biar Reva mau maafin Mas Krisna sama Mbak Roro? Reva udah maafin mereka, Bun! Reva nggak masalah mereka mau tinggal di sini sementara atau selamanya. Kenapa sih bunda selalu begitu. Itu malah bikin Reva benci, Bun!”
“Rev! Mungkin kamu udah ngerti. Manusia itu kadang bisa jatuh. Sama kayak mbakmu yang jatuh lantaran kurang hati-hati sama hidup dia. Awalnya sulit memaafkan perbuatan mereka. Siapa bilang Bunda nggak sakit hati ketika tahu-tahu Roro pulang bawa anak bawa suami tanpa ngasih kabar selama tiga tahun? Tapi Bunda yakin masalah bakalan selesai kalau Bunda maumaafin dan nerima mereka kembali sebagai bagian dari keluarga ini. Nyatanya mereka merasa lebih dihargai kan?”
“Tapi Reva masih berat, Bunda!”
“Bukalah hatimu. Belajar bersikap legawa. Toh kamu bisa belajar dari mereka dan nggak grusah-grusuh kalau pacaran. Ya to?” Bunda membelai rambutku lembut.
Dalam hati aku membenarkan kata-kata Bunda. Mungkin selama ini aku egois dan cuma berkutat sama masalah sendiri. Tanpa memikirkan sisi lain yang sebenarnya jauh lebih menyenangkan!
****
Sudah kukatakan padamu berkali-kali. Mungkin segalanya harus diakhiri. Tapi bukannya lantas aku milih bunuh diri. Aku nyoba buat maafin Mbak Roro dan Krisna yang brengsek itu dengan seikhlas hati. Tanpa embel-embel meskipun, walaupun atau tapi!
Aku belajar dari bunda arti memaafkan yang sebenar-benarnya. Aku belajar dari Mas Ali buat ikhlas menerima kenyataan. Meski pahit menggigit. Dan mungkin aku harus memulainya hari ini. Aku harus mampu mengecat kembali dinding kamarku yang gelap itu dengan warna yang cerah. Aku akan bersikap manis sama Willy meski terkadang menyebalkan. Aku harus mengakui kejeniusan Angga dibalik penampilannya yang menyedihkan. Aku nggak boleh terlalu picik mengartikan cinta. Aku harus membangun kembali pribadiku yang buruk setelah selama sebulan terpuruk!
Aku harus meraih cintaku kembali!!!!!!
Aku harap matahari siang ini bakal mengamini niat baikku. Meskipun teriknya minta ampun. Kalau saja aku sudah punya SIM dan diijinin bawa motor sendiri, mungkin aku nggak perlu lama-lama nunggu bus kota sendirian di depan gerbang sekolahku yang megah ini. Kalau saja hari ini Willy nggak sakit, mungkin aku bisa berbagi rasa gerah ini sama dia.
Akhirnya yang ditunggu datang juga. Tanpa banyak nunggu aku langsung naik bus kota yang kosong tanpa penumpang. Cuma ada sopir tanpa kondektur dan satu cowok yang duduk di jok tengah. Aku kenal cowok itu.
“Hai!” sapa cowok itu sambil menggeser duduknya.
Aku tersenyum lalu duduk di sampingnya. Kami terdiam cukup lama. Perjuampaanku sama dia yang hanya sekilas-sekilas di bus kota nggak bisa ngebendung perasaanku yang membuncah. Rasa gerah nggak lagi menjajah. Yang ada cuma rasa ingin dekat. Ingin lama-lama duduk berdua sama dia.
Kamu mungkin juga bakal ngerasain hal yang sama waktu jatuh cinta, kan?
“Oya, waktu itu aku lupa nanya. Kadoku udah kamu terima?” tanya cowok itu.
“Jadi itu kamu?”
Cowok itu mengangguk. Aku masih kebingungan. Tapi aku ngerasa senang. Tanganku yang gemetaran menggenggam boneka lucu yang menggantung di resleting tasku.
“Kamu nggak keberatan kan nerimanya?”
Aku menggeleng dan ngucapin makasih. Entah bagaimana mulanya. Tahu-tahu tangan cowok itu sudah menggenggam tanganku.
“Kamu juga nggak keberatan kalau aku jadi pacar kamu?”
Aku terpana. Pokiranku kosong melompong kayak kuda ompong.
“Kayaknya aku cukup asyik buat jadi pacar cewek asyik macam kamu. Kamu tahu, diam-diam aku nyari tahu tentang kamu. Sengaja naik bus yang sama meskipun arah rumah kita berlawanan. Sengaja nabrak kamu biar aku ngerti gimana kamu. Meskipun wajah kamu ketutup helm. Aku pura-pura angkuh dan maki-maki kamu padahal aku pengin banget bilang I love you.” jelas cowok itu. “Kamu nggak keberatan kan?” lanjutnya yang cuma aku jawab pake senyuman.
Tanpa menunggu, dia langsung memberiku sebuah ciuman. Aku terpana. Kata-kata seolah hilang. Rasanya aku sudah nggak lagi berpijak di bumi.
Aku nikmati saja cinta yang dating tiba-tiba di siang bolong tanpa permisi. Nggak peduli udara dalam bus yang panasnya minta ampun. Nggak peduli teriakan pengamen yang memukul-mukul bagian belakang bus gara-gara pintunya tertutup rapat. Lebih nggak peduli lagi sama Pak Sopir yang melirik kami dari spion sambil menggelengkan kepala.
Mungkin definisi yang tepat buat cinta kami gini: cinta itu kayak air suci yang dibawa Elang dari langit untuk Rantingnya Revalina yang sudah kekeringan!! Alah!!! Bahasa opo to kwi?
The end!!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar